INTINEWS.CO.ID, NASIONAL – Kabar duka cita hari ini Senin, 2 Februari 2026, Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6 Try Sutrisno meninggal dunia sekitar pukul 06.58 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD), Jakarta.

Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI) ke-6 Try Sutrisno meninggal dunia di usia 90 tahun meninggalkan seorang istri dan tujuh anaknya. Almarhum Try Sutrisno setelah dimandikan dan dikafani dari RSPAD dibawa ke rumah duka di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat.
Sebelumnya kondisi kesehatan Try Sutrisno menurun sejak 16 Februari 2026, menjalani perawatan intensif di Cerebro Intensive Care Unit (CICU) RSPAD Gatot Soebroto. Pada Senin pagi (2 Maret 2026), almarhum menghembuskan napas terakhir pukul 06.58 WIB.
Prosesi pemakaman almarhum Try Sutrisno berlangsung di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, dengan upacara militer resmi, sesuai penghormatan bagi purnawirawan tinggi TNI dan mantan pejabat negara. Sebelum pemakaman, jenazah akan disalatkan di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat.
Baca juga: Belasungkawa Dari Dewan Pers Atas Meninggalnya Buya Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif
Profil singakat Try Sutrisno, lahir pada tanggal 15 November 1935 di Surabaya, Jawa Timur (Jatim) dan meninggal pada tanggal 2 Maret 2026 di RSPAD, Jakarta. Try Sutrisno adalah seorang Purnawirawan Jenderal Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Try Sutrino merupakan lulusan Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) pada tahun 1959.
Karir Try Sutrisno pernah menjabat sebagai:
- Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6 (1993-1998)
- Menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (1986-1988)
- Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (1988-1993)
Ayah Try Sutrisno bernama Subandi berasal dari Garut, Jawa Barat yang bekerja di Dinas Kesehatan Kota Surabaya dan Ibunya bernama Mardiyah yang berasal dari Surabaya adalah seorang ibu rumah tangga. Pada 5 Februari 1961, Try Sutrisno menikahi Tuti Sutiawati yaitu seorang guru kelahiran Bandung, dan dikaruniai 7 orang anak yaitu: Nora Tristyana, Taufik Dwi Cahyono, Firman Santyabudi, Nori Chandrawati, Isfan Fajar Satrio, Kunto Arief Wibowo, dan Natalia Indrasari. Salah satu menantunya adalah Ryamizard Ryacudu yang menikah dengan Nora Tristyana.
Try Sutrisno menyelesaikan pendidikannya di SMA Bagian B pada tahun 1956. Setelah lulus dari SMA, Try Sutrisno ingin mendaftar di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) dan berteman akrab dengan Benny Moerdani. Pengalaman Try Sutrisno di ABRI menjalankan tugas di Sumatra, Jakarta, dan Jawa Timur. Pada tahun 1972, Try Sutrisno dikirim ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SESKOAD). Pada tahun 1974, Try Sutrisno terpilih menjadi ajudan Presiden Soeharto. Pada tahun 1978, Try Sutrisno diangkat menjadi Kepala Staf di KODAM XVI/Udayana. Setahun kemudian, Ia menjadi Panglima KODAM IV/Sriwijaya. Pada tahun 1982, Try Sutrisno diangkat menjadi Panglima KODAM V/Jaya dan ditempatkan di Jakarta. Pada tahun 1985, Ia menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat. Pada tahun 1986, Try Sutrisno sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Pada tahun 1988, Ia ditunjuk sebagai Panglima ABRI untuk menggantikan L.B. Moerdani.
Masa jabatan Try Sutrisno sebagai Panglima ABRI berakhir pada bulan Februari 1993. Pada bulan Februari 1993, bulan yang sama ketika Try Sutrisno berhenti dari posisinya sebagai Pangab, dan sebulan sebelum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dijadwalkan bertemu untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden baru, anggota MPR dari fraksi ABRI mencalonkan Try Sutrisno untuk menjadi Wakil Presiden.
Anggota dari Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia dengan cepat menyetujui pencalonan Try Sutrisno, sementara Golkar berjuang dalam memberitahu anggotanya bahwa Golkar tidak mencalonkan Try Sutrisno sebagai Wakil Presiden. Try Sutrisno mengambil sumpah jabatan sebagai Wapres RI pada tanggal 11 Maret 1993 pada sesi Majelis Permusyawaratan Rakyat.
Pemred dan Keluarga besar berita siber (online) www.intinews.co.id mengucapkan:
“Turut belasungkawa atas meninggalnya Bapak Try Sutrisno Wakil Presiden Republik Indonesia yang Ke-6“
(Redaksi/Ogi “Jhengghot”





