Kamis, Maret 12, 2026

Gaya Hidup, UP DATE

Gaya Hidup Selalu Mengikuti Tren Fear Of Missing Out Dapat Menyebabkan Masalah Keuangan Dan Stres

INTINEWS.CO.ID, GAYA HIDUP Kemajuan teknologi dunia maya buat semua keinginan menjadi lebih mudah dan cepat. Seperti dengan bermunculan macam aplikasi yang menyediakan sesuai kebutuhan sehari-hari. Gaya hidup selalu mengikuti tren Fear of Missing Out dapat menyebabkan masalah keuangan dan stres.

Gaya Hidup Selalu Mengikuti Tren Fear Of Missing Out Dapat Menyebabkan Masalah Keuangan Dan Stres
Ilustrasi dokumentasi INTINEWS.Co.Id (1/3).

Fear of Missing Out (FOMO) merupakan suatu perilaku yang sering didorong oleh keinginan akan kepuasan pribadi, gengsi, atau selalu mengikuti tren. Menjadikan perilaku atau pola hidup seseorang yang cenderung membelanjakan uang secara berlebihan dan tidak terencana dengan mendahulukan keinginan daripada kebutuhan pokok yang disebut “gaya hidup konsumtif“. Perilaku konsumtif adalah salah satu sifat atau perilaku manusia yang sering sekali menimbulkan masalah.

Baca juga: Aksi Sosial Forum Sosial Peduli Negeri Provinsi Kepulauan Riau Di Bulan Ramadhan 1447 H

Konsumtif dari kata “konsumsi,” kegiatan mengonsumsi barang dan jasa. Konsumtif artinya konotasi negatif karena merujuk pada pembelian yang tidak rasional atau berlebihan. Perilaku konsumtif cenderung dipengaruhi oleh dorongan emosional, keinginan akan kepuasan pribadi, pengaruh iklan yang kuat mengikuti tren, tekanan sosial atau gengsi.

Dengan bermunculan berbagai macam aplikasi yang menyediakan sesuai kebutuhan sehari-hari ditambah dengan berbagai macam sistem pembayaran yang sederhana dan mudah membuat perilaku konsumtif  dapat berdampak yang signifikan kepada individu atau masyarakat.

Dampak yang signifikan itu diantaranya:

  1. Menimbulkan masalah keuangan, sehingga mudah terjerat utang dan kesulitan keuangan.

  2. Menimbulkan kecemasan/stres/tekanan psikologis yang signifikan karena dengan masalah keuangan dikejar penagih hutang/depkolektor.
  3. Keharmonisan rumah tangga terganggu karena stres emosional/tekanan psikologis yang signifikan dapat memengaruhi kesejahteraan mental dan emosional seseorang.

  4. Kesehatan mental terdampak sehingga perlu berobat/bantuan profesional atau terapis.

  5. Berkontribusi pemborosan sumber daya alam (SDA), energi, dan material. Tidak terapkan gaya hidup berkelanjutan (sustainable living) mengakibatkan eksploitasi SDA yang memiliki dampak negatif pada lingkungan. penggunaan barang-barang sekali pakai seperti; kemasan plastik, botol air, dan kantong kresek belanjaan menyebabkan peningkatan limbah plastik yang sulit terurai dan merusak lingkungan.

Jadi, perilaku konsumtif itu bukan suatu perilaku baik jika terus menerus dibiarkan.

Baca juga: BP KPBPB Wilayah Tanjungpinang Turut Serta BITCRAFT EXPO 2026

Solusi mengatasi perilaku konsumtif diantaranya yaitu:

  1. Jangan belanja yang tidak perlu (buat rencana anggaran belanja).
  2. Terlebihdahulu prioritaskan kebutuhan dasar.
  3. Menghindari perilaku membandingkan diri dengan tetangga/orang lain.
  4. Menabung atau berinvestasi.
  5. Kendalikan diri sendiri (emosi/hasrat berbelanja) dengan melakukan aktivitas lainnya seperti berolahraga.
  6. Perbanyak melakukan/ikut kegiatan positif, seperti; kegiatan rohani atau sosial. 

Ingatlah di era kemajuan teknologi dunia maya ini membuat godaan hasrat untuk tampil stylish, penuh mode, punya barang terbaru, dan ikut tren media sosial (medsos) semakin kuat. Tanpa disadari akhirnya terjebak dalam pusaran gaya hidup konsumtif yang menguras kantong, menjerat keuangan dan degradasi mental.

Jadi mengambil langkah-langkah proaktif untuk menghindari berperilaku konsumtif adalah sangat penting. Dengan kesadaran akan kebutuhan esensial menjadikan suatu tindakan yang tepat untuk keberlanjutaan keuangan untuk hari ini, esok hari dan yang akan datang.

(Redaksi/Juan CDH Umboh)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!