INTINEWS.CO.ID, NASIONAL Dalam memperkuat devisa nasional Pemerintahan Prabowo Subianto jalankan strategi kebijakan DHE dan Ekspor SDA mulai 1 Juni. Apakah aturan sistem tata kelola perekonomian nasional masih “empuk” sehingga para kapiltalis enak mengkuras alam Indonesia masuk “jekpot” pundi-pundi mereka, sementara itu pundi yang masuk ke kas negara hanya sebesar hanya “tahi gigi”?

Memperkuat Devisa Nasional Pemerintahan Prabowo Subianto Jalankan Strategi kebijakan DHE Dan Ekspor SDA Mulai 1 Juni
Ilustrasi dokumen INTINEWS.Co.Id (22/5)

Devisa Hasil Ekspor (DHE) adalah seluruh penerimaan valuta asing yang diperoleh eksportir dari penjualan barang maupun jasa ke luar negeri. Dana ini wajib dimasukkan ke dalam sistem keuangan Indonesia. Terkait aturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) diantaranya kewajiban repatriasi, penempatan retensi, batas konversi, dan fasilitas insentif.

Baca juga: Tindak Tegas Tambang Yang Diduga Ilegal

Perihal akan menjalankan strategi kebijakan DHE dan Ekspor SDA mulai 1 Juni ini diketahui dari situs web https://setkab.go.id/mulai-1-juni-pemerintah-jalankan-strategi-besar-dhe-dan-ekspor-sda-untuk-perkuat-devisa-nasional/, yang diposting tertanggal, 22 Mei 2026. Berikut ini kutipannya;

Pemerintah terus mematangkan implementasi kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) dan tata kelola ekspor sumber daya alam melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat:

  • tata kelola ekspor nasional,
  • meningkatkan penerimaan negara, serta
  • memastikan devisa hasil ekspor dapat memberi manfaat optimal bagi perekonomian Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangannya usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, 22 Mei 2026, menyampaikan bahwa pemerintah telah melakukan sosialisasi kebijakan tersebut kepada sejumlah asosiasi pengusaha, baik dari dalam maupun luar negeri.

“Kami laporkan terkait kemarin pertemuan dengan para asosiasi pengusaha baik dalam maupun luar negeri, sosialisasi dari devisa hasil ekspor dan sosialisasi daripada ekspor melalui badan usaha milik negara,” ujar Airlangga.

Menko Airlangga menyampaikan bahwa dunia usaha menyambut baik arah kebijakan pemerintah tersebut. Mereka juga menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan badan yang telah dibentuk pemerintah.

“Hampir dari seluruh asosiasi baik dalam maupun luar negeri mereka mengapresiasi kebijakan yang diambil oleh pemerintah dan mereka siap untuk bekerja sama dengan badan yang dibentuk oleh pemerintah,” jelasnya.

Terkait pelaksanaan kebijakan tersebut, Airlangga menjelaskan bahwa kebijakan akan mulai berlaku pada 1 Juni 2026. Implementasinya akan dilakukan secara bertahap dan dievaluasi dalam tiga bulan pertama.

“Ya implementasi kan ada tahapannya, tapi mulai berlaku 1 Juni. Fully-nya nanti kita evaluasi 3 bulan,” ujarnya.

Pemerintah juga menyiapkan mekanisme pemantauan yang terintegrasi, antara lain melalui Direktorat Jenderal Bea Cukai, Danantara, dan sistem yang akan memungkinkan proses monitoring berjalan secara otomatis.

“Nanti tentu bisa melalui Bea Cukai dan nanti akan diketahui melalui Danantara dan melalui sistem. Jadi sehingga akan otomatis termonitor,” jelas Airlangga.

Baca juga: Kepala Seksi Penyuluhuan Dan Layanan Informasi KPPBC TMP B Tanjungpinang Setia Sosialisasi Lawan Peredaran Rokok Ilegal

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan pentingnya pengawasan yang kuat agar lembaga pelaksana kebijakan tidak menjadi entitas monopolis yang justru mengganggu pasar. Menurutnya, pemerintah akan memastikan pengawasan dilakukan oleh unsur lintas lembaga dan dirancang lebih baik dibandingkan sejumlah lembaga sebelumnya sehingga pelaksanaan kebijakan tetap berjalan sehat.

“Kalau pengawasan dibiarkan benar, kita harus taruh orang di sana, termasuk dari (Kementerian) Keuangan, dari kementerian lain,” ujar Purbaya.

Langkah ini menegaskan komitmen pemerintah dalam membangun sistem ekspor yang lebih tertata, transparan, dan berorientasi pada kepentingan nasional sekaligus memperkuat fondasi ekonomi Indonesia di tengah dinamika global yang terus berkembang.

(Redaksi/Juan CDH Umboh)