Kab. BINTAN, UP DATE

Kehilangan Hp Setalah Didatangi Orang Mengaku Wartawan

0 0
Read Time:3 Minute, 33 Second
Screenshot 20201105 144041
Penampakan CCTV, ini siapa?. Sumber foto layar (screenshot) luarbiasa.id

INTINEWS.CO.ID, BINTANBangaimana masyarakat akan  berpendapat jika ada suatu tindakan, ketika ada Orang yang mengaku sebagai Wartawan bertemu seorang Pejabat atau berkunjung ke kantor pemerintahan lalu mengambil sesuatu barang yang ada di situ?.

Di Tanjung Uban, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri dikabarkan adanya kehilangan hand phone (HP) seorang petugas syahbandar di Pelabuhan Kapal Roro-ASDP Tanjung Uban, pada hari selasa (3/11), yang sebelum terjadinya kehilangan Hp tersebut ada beberapa orang yang mengaku Wartawan mendatangi kantor tersebut.

Hp milik Harifin Yudha petugas syahbandar di Pelabuhan Roro ASDP Tanjunguban cepat menjadi “trending topik” perbincangan hangat di kalangan jurnalis di Kota Tanjungpinang.

Baca juga: Melekatkan Kebersamaan Menguatkan Persatuan

Peristiwa kehilangan barang di kantor Pemerintahan bukan saja hanya baru kali ini terjadi. Dahulu pernah juga di dengar awak media ini kabar di kantor Dishub Provinsi Kepri kehilangan kaca mata diruangan kantor pejabat di sana. Siapakah yang mengambil tanpa izin itu?. Ternyata ketahuannya juga dari CCTV yang terpasang di kantor tersebut. Dan kabarnya juga yang ambil ‘orang yang mengaku Wartawan’ yang mendatangi kantor itu. Setelah di tunjukkan CCTV, orang yang mengaku wartawan itu mengembalikan kaca mata milik salah satu Pejabat di situ.

Mendengar peristiwa hilangnya HP merek Oppo milik Harifin Yudha petugas syahbandar di Pelabuhan Roro ASDP Tanjunguban, awak media NTINEWS.co.id berbicara langsung dengan Harifin Yudha melalui ‘WA’, pada hari Kamis, (5/11).

Menurut penjelasan Harifin bahwa tadi pagi Hp Dia tadi sudah dikembalikan.

“Hp tadi pagi sudah di kembalikan.” ucap Harifin Yudha, (5/11).

Harifin Yudha juga menerangkan dengan sudah dikembalikannya Hp, peristiwa kejadian ini sudah diselesaikan.

“Sudah Clear (selesai), Bang, iya sudah clear”, jawab Harifin, (5/11).

Baca juga: Mengupas UANG Negara Tergerogoti Di Proyek Barang / Jasa Pemerintah Oleh Aparatur Daerah (Bagian ke-1)

Menurut situs di “alodokter.com” pencurian tidak selalu dilatarbelakangi oleh motif ekonomi. Rasa ingin mencuri juga bisa timbul pada seseorang yang menderita kleptomania.

Seseorang disebut menderita kleptomania ketika ia tidak mampu menahan diri untuk mencuri barang yang ada di sekitarnya, dan barang-barang tersebut sebenarnya tidak ia butuhkan, juga tidak memiliki harga yang mahal. Selain itu, penderita kleptomania juga mengambil barang-barang yang sebenarnya dapat dibelinya sendiri, atau barang bekas yang sudah tidak terpakai oleh pemiliknya.

Beberapa tanda-tanda seseorang mengidap kleptomania, yaitu:

  1. Keinginan tidak tertahankan untuk mencuri. Dapat dilakukan di lokasi ramai seperti supermarket atau toko, maupun di tempat pribadi seperti rumah teman atau kerabat.
  2. Sebelum mencuri, penderita kleptomania merasakan ketegangan yang meningkat.
  3. Merasakan kelegaan atau kenikmatan setelah mencuri. Sekaligus merasa malu, bersalah, menyesal, benci kepada diri sendiri, atau rasa takut akan ditangkap.
  4. Seringkali barang-barang curian diletakkan, disimpan, atau diberikan lagi pada orang lain. Tak jarang, barang curian itu dikembalikan kepada pemiliknya secara diam-diam.
  5. Keinginan mencuri pada penderita kleptomanania dapat hilang timbul. Penderita pun terkadang merasa terperangkap pada desakan untuk mencuri dan tindakan pencurian berulang.
  6. Pencurian yang dilakukan penderita kleptomania tidak didasarkan alasan halusinasi, delusi, marah, ataupun balas dendam.

Baca juga: Nama Para Anggota Konsil Kedokteran Indonesia

Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) menerangkan terkait pencurian di Pasal 362 jo. Pasal 364.

Di Peraturan Mahkamah Agung Nomor 02 Tahun 2012 tentang penyesuaian batasan tindak pidana ringan dan jumlah denda KUHP (“PERMA 02/2012”) pada Pasal 1, menerangkan:

Kata-kata “dua ratus puluh lima rupiah” dalam pasal 364, 373, 379, 384, 407 dan pasal 482 KUHP dibaca menjadi Rp 2.500.000,00 (dua juta lima ratus ribu rupiah).

Dalam kasus pencurian ringan, maka pelaku tidak di tahan dan perkara dilaksanakan melalui acara pemeriksaan cepat sebagaimana di maksud dalam bagian menimbang huruf b PERMA 02/2012, berbunyi:

“Bahwa apabila nilai uang yang ada dalam KUHP tersebut disesuaikan dengan kondisi saat ini, maka penanganan perkara tindak pidana ringan seperti pencurian ringan, penipuan ringan, penggelapan ringan dan sejenisnya dapat ditangani secara proporsional mengingat ancaman hukuman paling tinggi yang dapat dijatuhkan hanyalah tiga bulan penjara, dan terhadap tersangka atau terdakwa tidak dapat dikenakan penahanan, serta acara pemeriksaan yang digunakan adalah acara pemeriksaan cepat. Selain itu perkara-perkara tersebut tidak dapat diajukan upaya hukum Kasasi.”

Namun ketika pencurian seperti halnya pada katagori tindak pidana ringan (Tipiring), tetap saja sebagai manusia akan ada rasa malu, terlebih yang di jaga adalah nama baik keluarga, anak dan cucu.

(Redaksi).

ajax loader

cropped cropped Logo Resmi INTINEWS co id ©®2020 1

About Post Author

www.INTINEWS.co.id

www.intinews.co.id is The legal cyber news in Indonesia with professionality, actual and no hoaxes. With Motto: "Continuous struggle against oppressors with fact data!"
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: