Jangan Menjual Ponsel ‘Black Market’, Akan Ada Peraturan Tegas Dari Pemerintah

ilustrasi foto, dokumentasi INTINEWS.co.id

INTINEWS.CO.ID, NASIONAL Ponsel, saat ini sudah tentu hampir semua masyarakat di Indonesia memiliki Ponsel, bahkan Perorang ada yang memiliki ponsel lebih dari satu. Tapi sudahkah kita memastikan bahwa ponsel itu kita beli bukan dari ‘Black Market’?.

Di pasaran, banyak toko-toko menjual Ponsel dari berbagai merek, tapi kita tidak tau apakah ponsel kita itu dari barang seludupan (ilegal) atau tidak. Untuk anda yang menjual Ponsel ilegal, lebih baik jangan anda lakukan, karena Pemerintah sedang menggodok Peraturan yang menargetkan Indonesia merdeka dari ponsel black market (BM), dan bulan Agustus ini Peraturan tersebut akan di tandatangani.

Peraturan Pemerintah ini tidak tanggung-tangung, Tiga Menteri yang akan membuat Peraturan tentang Ponsel ilegal ini. Jadi, jika ponsel anda beli dari ‘black Market’ (ponsel ilegal) lebih baik bertukar ke Ponsel yang Legal (Resmi), apa lagi bagi anda yang menjual Ponsel ilegal, jangan lakukan itu.

Menkominfo Rudiantara didampingi pejabat yang lain mensosialisasikan Stop Ponsel BM, dalam acara di Kantor Kominfo, Jakarta, Jumat (2/8) siang. (Foto: Humas Kominfo)
Menkominfo Rudiantara didampingi pejabat yang lain mensosialisasikan Stop Ponsel BM, dalam acara di Kantor Kominfo, Jakarta, Jumat (2/8) siang. (Foto: Humas Kominfo).

Sumber dari https://setkab.go.id/diteken-agustus, berikut ini petikannya: Pemerintah tengah menggodok peraturan mengenai validasi (pengendalian) International Mobile Equipment Identity (IMEI) dengan Mobile Subscriber Integrated Services Digital Network Number (MSISDN) atau nomor ponsel. Pengaturan dalam bentuk ;

  1. Peraturan Menteri Perindustrian,
  2. Menteri Perdagangan, dan
  3. Menteri  Komunikasi dan Informatika

Peraturan akan ditandatangani pertengahan Agustus 2019.

“Bertepatan dengan Peringatan Ulang Tahun Proklamasi ke-74 Republik Indonesia, Pemerintah menargetkan Indonesia merdeka dari ponsel black market (BM) untuk mendongkrak pajak dan pertumbuhan industri ponsel yang sehat,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara dalam Talkshow di Kantor Kementerian Kominfo, Jakarta, Jumat (2/8).

 

Menkominfo berharap  rencana keluarnya Tiga Peraturan Menteri (Permen) itu bisa menyehatkan ekosistem industri telekomunikasi nasional. Ia mengungkapkan, dari beberapa negara yang telah menerapkan soal validasi IMEI ponsel, membawa keuntungan karena  pendapatan negara dari pajak bisa terdongkrak, selain konsumen juga terlindungi.

“Dengan keluarnya Permen tiga Menteri itu merupakan bentuk untuk merdeka dari ponsel BM. Oleh karena itu. kami merencanakan mengeluarkan permen soal valldasi IMEI itu yang diharapkan terealisasi secepatnya,” tegas Rudiantara.

Menkominfo mengingatkan, perdagangan ponsel BM membawa kerugian untuk konsumen, industri dan negara. Oleh karena itu,  pemerintah menilai pentingnya regulasi untuk mengatasi peredaran ponsel BM tersebut.

Dari aspek tata niaga, peredaran ponsel BM akan memengaruhi perdagangan perangkat elektronik dan pada gilirannya memengaruhi pendapatan negara. Asosiasi Ponsel Seluruh Indonesia (APSI) memperkirakan peredaran ponsel BM memiliki potensi  pajak yang hilang sekitar Rp 2,8 triliun per tahun.

Perhitungan itu didasarkan jumlah ponsel pintar baru setiap tahun sebanyak 45 juta ponsel pintar baru. Adapun sekitar 20% – 30 % atau setara dengan 9 juta unit ponsel merupakan ponsel BM. Dengan harga per ponsel dalam kisaran harga Rp2,2 juta, nilai ponsel baru yang beredar mencapai Rp  22,5 triliun.  Dengan demikian,  ponsel BM tidak membayar pajak sehingga potensi kerugian negara dari hilangnya pendapatan 10 % PPN dan 2,5% PPh adalah sekitar Rp 2,8 triliun setahun.

Tiga Fase Pengendalian

Implementasi regulasi validasi IMEI dengan MISDN, menurut Menkominfo Rudiantara, akan berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, inisiasi ditandai dengan penandatanganan tiga peraturan menteri.  Selanjutnya, Fase kedua, persiapan.

“Dalam fase ini pemerintah menyiapkan SIBINA (Sistem Informasi Basisdata IMEI Nasional) agar bisa dilakukan sinkronisasi data dengan data operator seluler. Selain itu juga melakukan sosialisasi dan penyiapan pusat layanan konsumen. operator seluler serta penyiapan pusat layanan konsumen. Fase pertama dan kedua ini diharapkan bisa terealisasi bulan Agustus 2019,” tutur Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kementerian Kominfo, Ismail.

Fase Ketiga dilakukan disebut fase operasional dalam bentuk eksekusi oleh operator telekomunikasi dengan melakukan pengiriman notifikasi oleh operator ke pemegang IMEI duplikat untuk membuktikan keaslian perangkat. penyediaan layanan lost and stolen dan sosialisasi laniutan.

Dirjen SDPPI, Ismail mengatakan dalam pengendalian IMEI ini pembagian tugas dibagi tiga kementerian.

“Kemenperin memiliki tugas menyiapkan database dan SIBINA sekaligus prosedur verifikasi dan validasi IMEI. Sementara,  Kementerian Kominfo meminta operator menyediakan layanan lost and stolen dan  sistem penghubung antara SIBINA dan EIR.  Dan Kemendag akan membina pedagang untuk mendaftarkan stok IMEI perangkat ke dalam SIBINA,” tutur ismail

Dalam kesempatan seminar dan talkshow tersebut dicanangkan juga gerakan

#StopPonselBM.

Dengan gerakan tersebut diharapkan seluruh elemen bangsa ikut.

Bagaimana dari Para Aparatur Penegak Hukum, contohnya seperti; Bea&Cukai, apakah akan tegas menindak Pemasok atau Toko yang jual Ponsel BM ini?. Kita tunggu 3 Permen ini tertandatangani. (Redaksi).

Redaksi

www.intinews.co.id adalah berita siber legal di Indonesia, menyuguhkan berita dengan profesionalitas, aktual dan anti hoaks. (www.intinews.co.id is legal news in Indonesia that presents news with professionality, actual and no hoaxes) With Motto: "The Struggle Continuously, oppressive opponents with fact data !".

Related Posts

Terima kasih atas perhatiannya. Hormat kami, Pimred www.intinews.co.id

%d blogger menyukai ini: