WWW.INTINEWS.CO.ID

"Sulit dapat KEADILAN berdasarkan KEBENARAN maka LAWAN PENINDASAN itu dengan Data Fakta !." (Pemred INTINEWS.co.id)

“Bhinneka Tunggal Ika” Frasa Jawa Kuno Dari Abad Ke-14

INTINEWS.CO.ID, PENDIDIKAN& IPTEK - Mpu Tantular sangat jauh melebihi zamannya. Jauh sebelum para filsuf Eropa membangun Masyarakat Teosofi di akhir abad ke-19 dan merumuskan Filsafat Perenial untuk publik Eropa di abad ke-20, Mpu Tantular telah merumuskan sebuah batu pijak bersama untuk menghubungkan Nusantara.

INTINEWS.CO.ID, PENDIDIKAN& IPTEK – Mpu Tantular sangat jauh melebihi zamannya. Jauh sebelum para filsuf Eropa membangun Masyarakat Teosofi di akhir abad ke-19 dan merumuskan Filsafat Perenial untuk publik Eropa di abad ke-20, Mpu Tantular telah merumuskan sebuah batu pijak bersama untuk menghubungkan Nusantara.

Sebuah Filsafat Perenialisme TertuaCover buku Kakawin Sutasoma oleh Mpu Tantular (ilustrasi/dok foto: goodreads.com).

Sebuah karya PJ Zoetmulder yang bernilai magnum opus karena berikhtiar merangkum sastra Jawa Kuno, Kalangwan, Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, diperbarui pada zaman Majapahit, ditambah dua kakawin besar yang ditulis oleh pujangga yang sama. Berjudul Arjunawijaya dan Sutasoma, nama pujangga yang menggubahnya adalah Mpu Tantular.

Baca juga : Pembangunan Infrastruktur dan Budaya Seharusnya Seimbang

Ada dugaan, Arjuna wijaya digubah lebih dari pada Sutasoma. Sama-sama digubah saat Raja Rajasanagara bertahta, atau sohor dikenal sebagai Hayam Wuruk, di era Kerajaan Majapahit tengah berada di puncak kemegahannya. Diakhir Sutasoma, Sang pujangga ini memenangkan sang Raja karena menyebabkan semua ‘penjahat’ membuatnya percaya.

Ya, bicara nama Mpu Tantular tentu cukup populer untuk masyarakat Indonesia. Pasalnya, tujuh abad setelah Sutasoma ditulis, para Pendiri Republik mengutip penggalan umpan dari karya mpu ini. Motto “bhinneka tunggal ika” dijadikan simbol untuk negara-bangsa bernama Indonesia. Frasa Jawa Kuno dari abad ke-14 ini disematkan pada simbol negara, Garuda Pancasila.

Merujuk Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, sebuah buku yang diterbitkan oleh Sekretariat Jenderal MPR RI, dari bahasa Jawa Kuno ini mengandung arti: bhinneka (beragam), tunggal (satu), ika (itu) adalah beragam satu itu. Atau lazim dimaknai sebagai “berbeda-beda namun tetap satu jua.”

Baca juga : Pawai Budaya Dalam Perayaan HUT Otonom Ke-18 Kota Tanjungpinang

Masih dari sumber di atas, diumumkan bahwa moto “Bhinneka Tunggal Ika” pada awalnya mulai jadi bahan diskusi terbatas antara Muhammad Yamin, Bung Karno dan I Gusti Bagus Sugriwa di sela-sela sidang-sidang BPUPKI, antara Mei-Juni 1945.

Ada dugaan, Yamin adalah pengusulnya setelah ia membaca tulisan Hendrik Kern yang berjudul Verspreide Geschriften, di mana frasa Jawa Kuno itu termuat.

Konon, di sela-sela sidang BPUPKI itu, Yamin menyebut frasa Bhinneka Tunggal Ika . Mendengar itu, sontak I Gusti Bagus Sugriwa yang berasal dari Bali berucap, “Tan hana dharma mangrwa.” Respons spontan ini menyenangkan hati Yamin, sekaligus menunjukkan itu di Bali frasa Bhinneka Tunggal Ika masih hidup dan diterjemahkan orang. Meskipun Sutasoma diterbitkan oleh seorang pujangga Budhis, diberikan pengaruhnya cukup besar di lingkungan masyarakat Hindu-Bali.

Baca juga : Empat Kekuatan Literasi Menurut Menteri Syafruddin

Lain pendapat Mohammad Hatta. Dalam Bung Hatta Menjawab, Wakil Presiden pertama ini menuturkan dari Bhinneka Tunggal Ika yang menerima Bung Karno. Gagasan tentang Indonesia Merdeka, saat momen diperlukan, untuk menentukan status negara dalam bentuk Garuda Pancasila.

Masih seturut ingatan Bung Hatta, simbol Garuda Pancasila dengan dua kaki mencengkeram pita putih bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika, yang merupakan hasil dari kreasi Sultan Hamid II yang digunakan secara resmi dalam Sidang Kabinet RIS (Republik Indonesia Serikat) yang dipimpin Bung Hatta pada 11 Februari 1950 .

Potongan umpan gubahan Mpu Tantular ini oleh para pemilik bangsa diberikan perspektif baru karena telah relevan dan kontekstual dengan kebutuhan strategis bangunan Indonesia merdeka. Indonesia sebagai negara-bangsa (bangsa-bangsa), bagaimana pun menghadapi realitas multietnis, multibudaya, multiagama dan kepercayaan, serta berjuang.

Oleh KARENA ITU, Indonesia Bukan Saja butuh sesanti gatra sebagai Perekat kebangsaan. Indonesia juga butuh panduan falsafah dasar, atau philosofische grondslag, atau weltanschauung, sebagai dukungan ketatanegaraan hidup bersama. Tanpa kehadiran azas universalisme kebangsaan ini yaitu “Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika” tidak dapat dipahami karena cangkang partikularisme dalam rupa sektarianisme mendalam, baik atas nama etnis atau agama atau kombinasi (etno-religius), akan jadi hasil hidup bersama.

Mpu Tantular dan Kakawin Sutasoma

Merujuk laman Kemendikbud, frasa kutipan Bhinneka Tunggal Ika ini berasal dari Kakawin Sutasoma, dari pupuh 139, umpan 5. Umpan ini dilengkapi lengkap, seperti di bawah ini:

Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Terjemahan:

Buddha Konon dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanaakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Kembali dipertimbangkan Zoetmulder. Menurutnya, melibatkan Sutasoma menjadi penting karena kakawin memberikan pengetahuan tentang bagaimana hubungan antara Budhisme-Mahayana di satu sisi dan Hindu-Siwaisme di sisi lain pada zaman Kerajaan Majapahit. Sekalipun Sutasoma sendiri menerjemahkan sebagai susastra Buddha, menyanyikan pujangga dan ragu menampilkan cara terbaik di mana Budhisme-Mahayana dan Hindu-Siwaisme terus hidup berdampingan, mencari titik temu, dan menapaki keseljatian yang baru.

Persatuan Indonesia. Ilustrasi foto dokumentasi INTINEWS.co.id

Menurut Zoetmulder bisa dipastikan Mpu Tantular dan pujangga yang memeluk agama Buddha. Nama Mpu Tantular sendiri berarti, tan (tidak) dan tular (terpangaruh). Dengan demikian, citra Mpu Tantular seturut namanya adalah seorang mpu (cendekiawan, pemikir, pujangga) yang berpendirian teguh, dan tidak mudah berbagi siapa pun.

Mpu Tantular tentu menyadari, bahwa Budhisme-Mahaya dan Hindu-Siwaisme memang merupakan praktik ritus dan teologi yang berbeda satu dengan lainnya. Toh demikian, kompilasi pembicaraan perihal tujuan tertingginya (realitas pamungkas), juga disadari oleh Mpu. Tantular untuk teologi Budhisme-Mahayana dan Hindu-Siwaisme itu niscaya tiba pada tujuan yang sama dan sama.

Masih seturut Zoetmulder, poin substantif perihal harmoni atas perbedaan teologis antara Budhisme-Mahayana dan Hindu-Siwaisme itu, bahkan ditegaskan dalam Sutasoma sebagai “Mangkan ng jinatwa kalawan siwatattiva tunggal”, karena itu ada beberapa pilihan yang dapat dipilih. satu dan sama.

Bukan hanya Zoetmulder yang tiba pada kesimpulan demikian. Sebutlah Hendrik Kern (1833 – 1917). Bahasa Belanda Bahasa Belanda Bahasa Inggris ( Bahasa ) ( Bahasa Indonesia )

Tak kecuali, Agus Aris Munandar (2013) di Kemaritiman Majapahit Berdasarkan Data yang Tersedia. Siwa-Buddha adalah salah satu puncak peradaban Majapahit. Apa pasal?. Dalam zaman Mataram Kuno di Jawa Tengah, juga zaman Airlangga dan Kadiri, Siwa dan Buddha masih berkembang sendiri.

Persemaian dari penggabungan Hindu-Siwa dan Budhisme-Mahayana barulah terjadi di era Singhasari dan kemudian dikembangkan lebih lanjut di era Majapahit. Saat itu membahas hakikat tertinggi dari kedua agama itu, yaitu Siwadan Buddha, dipahami sepenuhnya dan sederajat, tidak ada dharma yang mendua.

Selain itu, masih mengikuti Munandar, di tanah kelahirannya, di India sana, kedua agama itu selalu dalam kondisi yang bersaing dan konflik satu dengan lainnya. Fenomena ini nisbi tidak terjadi di Nusantara.

Pada titik ini, jangan berlebihan jika Mpu Tantular adalah pujangga besar. Meskipun hidup di zaman Majapahit abad ke-14, perjuangannya telah terbukti lolos jauh ke depan. Kakawin Sutasoma  jelas merupakan hasil perenungan dan kontemplasi Mpu Tantular terhadap ayat-ayat suci, baik dalam agama Hindu-Siwaisme maupun Budhisme-Mahayana sekaligus.

Ya, Mpu Tantular jauh melebihi zamannya. Jauh sebelum para filsuf Eropa seperti Agostino Steuco (1497–1548), atau Marsilio Ficino (1433–1499), atau Giovanni Pico della Mirandola (1463–1494). Atau bahkan jauh sebelum HP Blavatsky (1831–1891) dan Annie Besant (1847–1933) menelurkan ide “Kebijaksanaan Kuno” dan membentuk Masyarakat Teosofi pada abad ke-19. Tentu juga berlebihan sosok Aldous Huxley (1894 –1963) yang terkenal sebagai pelopor kelahiran filsafat perenialisme di abad ke-20.

Ya, jauh melebihi semua filsuf itu, Mpu Tantular di abad ke-14 telah mengatur fondasi temu teologis dalam khazanah agama di Nusantara.

Menariknya, A Teeuw dan Stuart Owen Robson (1983) dalam Kunjarakarna Dharmakathana: Pembebasan melalui Hukum Buddha tidak pernah memaparkan, hingga sekarang agama Hindu-Siwaisme dan Buddha-Mahayana dari zaman Kerajaan Majapahit ini masih mencari  kontinuitasnya di Bali. Senyawa kedua agama ini di Bali dikenal dengan sebutan “Siwa-Buddha”.

Kakawin Sutasomo , yang ditulis oleh Mpu Tantular pada sekitar tahun 1350-an, tujuh abad lalu, di antara isi pesannya terus bergulir sepanjang hari ini dan turut berproses membingkai negara baru Indonesia.

Belajar Dari Sejarah Masa Lalu, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika memang Patut Tumbuh Dan mekar mengejawantah sebagai ‘agama public’ (agama sipil).

@Sumber berita, https://www.indonesia.go.id/ragam/budaya/ekonomi/sebuah-filsafat-perenialisme-tertua

(Redaksi).