Kamis, April 30, 2026

BICARA MEDSOS, PENGETAHUAN, UP DATE

Perang Iran Versus Israel Dan Amerika Serikat Berefek Pada Ekonomi Dan Geopolitik Global Negara Lain

INTINEWS.CO.ID, PENGETAHUAN Bicara media sosial (medsos) yang “panas” masih terkait perang Iran versus Israel dan Amerika Serikat berefek pada ekonomi dan geopolitik global negara lain.

Perdamaian dan keamanan internasional adalah sangat esensi. Isu non-proliferation of nuclear weapons atau larangan pengembangan senjata nuklir dapat merusak proses diplomasi internasional. Peperangan jangan sampai terjadi dalam buku The International Criminal Law (William Schabas), tindakan yang dapat memenuhi unsur genosida, yaitu intended to destroy atau niat untuk menghancurkan kelompok etnis, ras, maupun bangsa tertentu.

Perang Iran Versus Israel Dan Amerika Serikat Berefek Pada Ekonomi Dan Geopolitik Global Negara Lain
Ilustrasi, oleh Ogi “Jhengghot” (13/3).

Ketegangan militer antara Iran, Israel dan Amerika Serikat (AS/USA) kian meningkat tajam setelah saling menggempur dengan kekuatan serangan udara dan rudal. Konflik ini telah menyebabkan rusaknya infrastruktur sipil dan jumlah korban jiwa dan luka yang signifikan dari saling balas serangan tersebut. Negara lain pun ikut terdampak karena perang ini, salah satunya seperti penutupan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz.

Baca juga: Dengan Situasi Kehidupan Global Saat Ini Indonesia Harus Perkuat Persatuan Dan Perdamaian

Sebelumnya pada Tanggal 28 Februari 2026, militer AS dan Israel melancarkan serangan udara dan rudal yang menarget pangkalan militer, fasilitas pertahanan, serta struktur kepemimpinan Iran dalam operasi militer bersama yang disebut Operation Lion’s Roar. Sebagai respons atas agresi tersebut,  memicu balasan dari Iran yang melancarkan gelombang rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, pangkalan militer AS, dan negara sekutu di kawasan Teluk.

Media pemerintah Iran dan sejumlah laporan internasional mengabarkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang menjabat sejak tahun 1989 telah meninggal karena serangan gabungan AS-Israel yang menghantam kompleksnya di Tehran. Selain Khamenei meninggal, turut serta meninggal dalam serangan itu ada beberapa pejabat tinggi Iran dan anggota keluarganya. Dari beberapa laporan media lokal juga mengabarkan mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad turut meninggal dalam serangan di Tehran, namun info ini masih berkembang dan belum dikonfirmasi secara resmi oleh otoritas internasional.

Israel mengklaim bahwa serangan tersebut merupakan tindakan pencegahan agar Iran tidak memiliki senjata nuklir. Dalam pernyataan resminya di PBB pada hari Selasa, 17 Juni 2025, diplomat Iran Amir Saeid Iravani menegaskan bahwa serangan Israel merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional. Ia menyatakan bahwa Iran belum memproduksi senjata nuklir dan program nuklir yang dimiliki selama ini semata-mata digunakan untuk kepentingan industri dan kebutuhan energi.

Tindakan militer Israel ini terjadi di tengah upaya diplomatik Perserikatan Bangsa-Bangsa dan negosiasi Amerika Serikat dengan Iran terkait pengayaan uranium. Padahal, Iran merupakan salah satu negara yang telah menandatangani perjanjian internasional untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dan menggunakan energi nuklir secara damai.

Non-Proliferation Treaty (NPT) atau Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir adalah kesepakatan internasional yang ditandatangani pada 1968, dan di Tahun 1970 mulai diberlakukan. NPT memiliki 190 negara anggota. Tujuan kesepakatan ini untuk mencegah penyebaran senjata nuklir dan mendorong penggunaan energi nuklir untuk tujuan damai. Dalam perjanjian ini hanya lima negara yang diakui secara resmi boleh memiliki senjata nuklir, yakni:

  1. Amerika Serikat,
  2. Rusia,
  3. China,
  4. Inggris,
  5. Prancis.

Negara-negara lain, termasuk Iran, hanya diizinkan mengembangkan program nuklir sipil di bawah pengawasan ketat Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Pengumuman dari Garda Revolusi Iran terkait “kondisi keamanan” di Selat Hormuz ditutup, dengan peringatan kepada kapal-kapal agar tidak melewati selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur transit penting bagi pasokan energi dunia, sehingga penutupan pun berdampak besar terhadap perdagangan minyak dan gas global.

Dalam serangan balasan Iran, rudal Iran menyerang:

  • sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, seperti di Kuwait, Qatar, Riyadh, dan Bahrain.
  • menghantam kawasan Tel Aviv di Israel yang menelan korban jiwa warga sipil dan luka‑luka.
  • bandara sipil dan fasilitas umum di negara Teluk seperti Uni Emirat Arab menimbulkan korban. Termasuk kerusakan pada terminal bandara di Abu Dhabi dan Dubai, dengan pembatalan penerbangan dan gangguan layanan akibat kondisi keamanan.

Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran terjadi di tengah proses perundingan damai yang berlangsung di Jenewa dan Wina. Serangan tersebut diawali dengan operasi militer di Teheran, dan kemudian dibalas oleh Iran dengan menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, seperti di Kuwait, Qatar, Riyadh, dan Bahrain.

Baca juga: Satukan Perbedaan Dan Jembatani Perdamaian Untuk Peradaban Yang Adil, Hentikan Genosida Budaya

Konflik ini mendapatkan reaksi luas dari negara-negara di dunia, termasuk seruan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB/United Nations) untuk menghentikan permusuhan dan mencari solusi diplomatik agar perang tidak berlanjut menyebar jadi konflik lebih besar lagi. Tidak menutup kemungkinan eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi memicu krisis energi global hingga terjadinya perang dunia (World War).

Setelah Perang Dunia II, masyarakat internasional menyepakati prinsip menjaga perdamaian melalui PBB. Dalam piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Charter), khususnya di Pasal 2 ayat 3, dan Pasal 2 ayat 7, setiap negara diwajibkan menahan diri dari penggunaan kekuatan militer yang dapat mengancam integritas teritorial dan kemerdekaan negara lain.

All states shall refrain from the use of force that disrupts the territorial integrity and independence of a country

Potensi Perang Dunia Ketiga (World War III) akan terbuka lebar ketika Rusia, Republik Rakyat Cina (RRC) dan Korea Utara yang merupakan punya “hubungan strategis” dengan Iran ikut serta membantu menyerang Israel dan AS. Keterlibatan negara-negara tersebut akan memicu konflik menjadi perang berskala global. Ketegangan geopolitik di kawasan lain, seperti konflik antara Rusia dan Ukraina, ketegangan di Selat Taiwan, serta konflik di laut China Selatan.

Ingatlah, penggunaan senjata nuklir dalam konflik global mengancam keberlangsungan kehidupan di bumi. Warga sipil di dunia harus masif mendesak PBB untuk menghentikan perang ini.

With true love by peace We live,” Ogi “Jhengghot” Pemred berita online www.intinews.co.id, (13/3).

@Sumber Berita, Net.

(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!