NASIONAL, UP DATE

Juru Bicara Kementerian Agama Anna Hasbie Menilai Gus Miftah Asbun Dan Gagal Paham

2 Views

INTINEWS.CO.ID, NASIONAL Miftah Maulana Habiburrahman, S.Pd, yang lebih dikenal “Gus Miftah” merupakan seorang mubalig, juga pimpinan di Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman. Soal ceramah Gus Mitah di Bangsri Sukodono, Juru Bicara Kementerian Agama Anna Hasbie menilai Gus Miftah asbun dan gagal paham terhadap surat edaran (SE) tentang pedoman penggunaan pengeras suara di masjid dan musalla.

Juru Bicara Kementerian Agama Anna Hasbie Menilai Gus Mitah Asbun Dan Gagal Paham
Ilustrasi, oleh Ogi “Jhengghot”, (12/3).

Gus Miftah adalah keturunan ke-9 Kiai Muhammad Ageng Besari, pendiri Pesantren Tegalsari di Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur (Jatim), yang beberapa waktu lalu berceramah di Bangsri Sukodono, Sidoarjo, Jawa Timur, berbicara tentang larangan menggunakan pengeras suara (speaker) saat tadarus Al-Quran di bulan Ramadan 1445 H/2024 M.

Baca juga: Lembaga Adat Kesultanan Riau Lingga Kota Tanjungpinang-Kabupaten Bintan Menuntut Ansar Ahmad Gubernur Kepri

Atas ceramah tersebut, Juru Bicara Kementerian Agama Anna Hasbie menilai Gus Miftah asbun dan gagal paham. hal ini diketahui awak media ini dari situs web https://kemenag.go.id/nasional/dinilai-gagal-paham-gus-miftah-diminta-baca-edaran-pengeras-suara-sebelum-ceramah-JrswJ, yang berjudul “Dinilai Gagal Paham, Gus Miftah Diminta Baca Edaran Pengeras Suara Sebelum Ceramah” yang diposting pada hari Senin, 11 Maret 2024, pukul 14:53 WIB.

Juru Bicara Kementerian Agama Anna Hasbie Menilai Gus Mitah Asbun Dan Gagal Paham
Tangkapan layar di akun YouTube @situsdakwah, oleh Ogi “Jhengghot”, (12/3).

Berikut ini kutipannya:

Gus Miftah saat ceramah di Bangsri, Sukodono, Sidoarjo, Jawa Timur, beberapa hari lalu, berbicara soal larangan menggunakan speaker saat tadarus Al-Quran di bulan Ramadan. Dia lalu membandingkan penggunaan speaker itu dengan dangdutan yang disebutnya tidak dilarang bahkan hingga jam 1 pagi.

Potongan video ceramah ini juga diunggah di sejumlah media sosial.

Gus Miftah tampak asbun dan gagal paham terhadap surat edaran tentang pedoman penggunaan pengeras suara di masjid dan musalla. Karena asbun dan tidak paham, apa yang disampaikan juga serampangan, tidak tepat,” tegas Juru Bicara Kementerian Agama Anna Hasbie di Jakarta, Senin (11/3/2024).

Sebagai penceramah, biar tidak asbun dan provokatif, baiknya Gus Miftah pahami dulu edarannya. Kalau nggak paham juga, bisa nanya agar mendapat penjelasan yang tepat. Apalagi membandingkannya dengan dangdutan, itu jelas tidak tepat dan salah kaprah,” sambung Anna Hasbie.

Menurut Anna Hasbie, Kementerian Agama pada 18 Februari 2022 menerbitkan Surat Edaran Nomor SE. 05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala. Edaran ini bertujuan mewujudkan ketenteraman, ketertiban, dan kenyamanan bersama dalam syiar di tengah masyarakat yang beragam, baik agama, keyakinan, latar belakang, dan lainnya.

Edaran ini mengatur tentang penggunaan pengeras suara dalam dan pengeras suara luar. Salah satu poin edaran tersebut mengatur agar penggunaan pengeras suara di bulan Ramadan, baik dalam pelaksanaan Salat Tarawih, ceramah/kajian Ramadan, dan tadarrus Al-Qur’an menggunakan pengeras suara dalam.

Edaran ini tidak melarang menggunakan pengeras suara. Silakan Tadarrus Al-Qur’an menggunakan pengeras suara untuk jalannya syiar. Untuk kenyamanan bersama, pengeras suara yang digunakan cukup menggunakan speaker dalam,” tegas Anna Hasbie.

“Ini juga bukan edaran baru, sudah ada sejak 1978 dalam bentuk Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor Kep/D/101/1978. Di situ juga diatur bahwa saat Ramadan, siang dan malam hari, bacaan Al-Qur’an menggunakan pengeras suara ke dalam,” jelasnya.

Anna menambahkan, edaran ini dibuat tidak untuk membatasi syiar Ramadan. Giat tadarrus, tarawih, dan qiyamul-lail selama Ramadan sangat dianjurkan. Penggunaan pengeras suaranya saja yang diatur, justru agar suasana Ramadan menjadi lebih syahdu.

Kalau suaranya terlalu keras, apalagi antar masjid saling berdekatan, suaranya justru saling bertabrakan dan menjadi kurang syahdu. Kalau diatur, insya Allah menjadi lebih syahdu, lebih enak didengar, dan jika sifatnya ceramah atau kajian juga lebih mudah dipahami,” tandasnya.

Apakah khalayak ramai setuju dengan pernyataan bahwa Gus Miftah asbun dan gagal paham terhadap surat edaran dari Kementerian Agama tentang pedoman penggunaan pengeras suara di masjid dan musalla?

(Redaksi/Ogi “Jhengghot”)

Loading

Tinggalkan Balasan