Di Antara; ‘Kritik, Fitnah dan Ujaran Kebencian’

INTINEWS.CO.ID, OPINI – Kritik, Ujaran Kebencian dan berita hoax atau Fitnah, sering kita mendengar hal tersebut dan terkadang sulit membedakannya terutama pada ujaran kebencian dan juga kritik. Tidak sedikit masyarakat di negeri ini yang terkena pada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) .
ilustrasi foto, dokumentasi intinews.co.id
Baru-baru ini pada pemberitaan, pemerintah membuka diri untuk melakukan revisi kembali terhadap Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang sudah direvisi dengan Undang-Undang (UU) Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 itu (https://intinews.co.id/pemerintah-buka-peluang-revisi-uu-ite/).
ilustrasi foto, dokumentasi intinews.co.id
Kritik adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu yang tujannya untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki yang lagi atau sudah dikerjakan, sehingga akan adanya perbaikan. Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kritik adalah; kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya.
Secara etimologis berasal dari κριτικός, ‘clitikos – “yang membedakan”, kata ini sendiri diturunkan dari bahasa Yunani Kuno κριτής, krités, artinya “orang yang memberikan pendapat beralasan” atau “analisis”, “pertimbangan nilai”, “interpretasi”, atau “pengamatan”.
Pemberi krtik disebut kritikus, seorang seniman memberikan kritiknya dengan karya seninya, misalnya dengan nyanyian, pentas teater atau drama, lawakan, dan sebagainya. Ilmuwan, kritikannya membuat buku/tulisan. Masyarakat melenia saat ini banyak melalui medsos, dan juga banyak masyarakat dari medsos tersebut masuk prodeo karena melanggar UU ITE. Dalam UU ITE, selayaknya yang di larang dan di blokir adalah ujaran ‘kebencian’ karena rasa ini timbul/niat dari egoisme orang tersebut, dengan landasan fitnah, provokasi, atau hoaks.

Sikap kritis biasa kita temui, seperti kritikan dari karyawan/anak buah, teman, saudara, dan rakyat/masyarakat memiliki sikap kritis kepada Pemerintahan di negara yang berlandaskan demokrasi. Bahkan di negara maju ada pekerjaan sebagai Kritikus, bayaran (gaji) besar dan kerjanya hanya memberikan Kritikan.

Ujaran Kebencian, pada umumnya dalam bahasa Inggris disebut Hate speech. Dalam bahasa Indinesia ada Ujaran Konstatatif dan Ujaran Performatif. Kebanyakan ucapan kebencian yang diawali dari aksi individu lalu menjadi reaksi sekelompok, dengan berbagai bentuk seperti; provokasi, hasutan, ataupun hinaan kepada individu atau kelompok yang lain dalam hal berbagai aspek seperti ras, warna kulit, etnis, gender, cacat, orientasi seksual, agama, dan lain-lainnya, yang memicu terjadinya tindakan semena-mena, kekerasan dan sikap prasangka entah dari pihak pelaku ujaran kebencian ataupun kelompoknya.

Pada website, di era modern ini ada website digunakan sebagai Hate Speech ini disebut Hate Site. Kebanyakan dari situs ini menggunakan forum internet dan berita untuk mempertegas suatu sudut pandang si ujaran kebencian dengan diimplementasikan sudut pandang buruk dan terburu-buru seakan-akan kebijakan tersebut biar terlihat benar dan berorientasi politis.
Pencemaran nama baik, Dapat membingungkan masalah Hate speech dengan Pencemaran nama baik, dalam bahasa Inggris, pencemaran nama baik diartikan sebagai;
  • defamation,
  •  libel, dan
  • slander.

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah;

  • fitnah (defamation),
  • fitnah lisan (slander),
  • fitnah tertulis (libel).

Pemberitaan palsu/Hoaks (Fitnah), merupakan suatu usaha untuk menipu atau mengakali pembaca atau pendengarnya untuk mempercayai sesuatu yang di kabarkan/disampaikan, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu belaka. Di era internet saat ini, suatu Pemberitaan palsu bisa dibuat dengan mengedit atau memformat rekaman audio, video/film dan tulisan.

Hukum itu Ditegakkannya Kebenaran.

Konstitusi, Perundang-undangan dan Peraturan pelaksanaan lainnya itu bertujuan untuk pembatasan kekuasaan, maka disebutlah konsep Negara Hukum. Indonesia adalah Negara Hukum, sebuah negara yang menjunjung kehidupan berdemokrasi.

Negara Hukum yang demokratis ialah Pemerintahan yang terbatas kekuasaannya dan tidak dibenarkan bertindak sewenang-wenang terhadap warga negaranya. Negara Republik Indonesia memiliki konstitusi yaitu Undang-Undang Dasar 1945, dengan Pasal-Pasal dan Ayat-Ayat yang terkandung bermacam nilai, seperti;

  • Kedaulatan ada di tangan rakyat.
  • Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (rechsstaat) dan tidak berdasarkan kekuasaan belaka (Machsstaat).
  • Pemerintah berdasarkan atas system konstitusi (hukum dasar) dan tidak bersifat absolutism (kekuasaan yang tidak terbatas).

Sah mengkritik individu, kelompok/golongan, ataupun pemerintah kita, karena Indonesia adalah negara berdemokrasi. Yang tidak boleh/dilarang adalah mengkritik dengan menggunakan kata-kata makian (ucapan kasar), jangan memaksakan pendapat kepada orang lain, jika orang lain berpendapat yang berbeda kita hargai saja pendapatnya karena setiap individu pastilah berbeda pendapatnya.

Sejatinya kritik itu dalam rangka memperbaiki/berpendapat atau perilaku/perbuatan atau kebijakan/keputusan seseorang. Sebaliknya, bukan didasarkan atas kebencian terhadap orangnya. Jika mau beri kritikan gunakan pilihan kata yang tidak menyinggung sopan dan bijaksana, tetapi tetap tidak mengurangi ensensi kritiknya.

Dakwaan yang terkait dengan kritik yang berlebihan (kata makian), penghinaan, fitnah, ujaran benci, hoaks dan sebagainya dipidana dengan Hukum, seperti;

  • KUHP
  • UU RI No.1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana
  • UU RI No. 40 Tahun 2008, tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis
  • UU RI No. 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE).

Di KUHP, seperti ;

  • Penghinaan terhadap bendera Kebangsaan RI dan lambang Negara RI (Pasal 154a KUHP),
  • Penghinaan terhadap golongan penduduk Indonesia tertentu (Pasal 156 & 157 KUHP),
  • Penghinaan terhadap agama tertentu yang ada di Indonesia (Pasal 156a KUHP),
  • Penghinaan terhadap Petugas Agama yang menjalankan tugasnya dan benda-benda untuk keperluan ibadah (Pasal 177 KUHP),
  • Penghinaan terhadap penguasa umum (Pasal 207 KUHP).
  • Penistaan (smaad). diatur dalam Pasal 310 ayat (1) KUHP.
  • Penistaan dengan surat/smaadschrift (diatur pada Pasal 310 ayat (2) KUHP).
  • Fitnah/laster (Pasal 311 KUHP).
  • Penghinaan ringan/eenvoudige belediging (Pasal 315 KUHP).
  • Pengaduan untuk memfitnah/lasterlijke aanklacht (Pasal 317 KUHP).
  • Tuduhan secara memfitnah/lasterlijke verdachtmaking (Pasal 318 KUHP).
  • Penghinaan mengenai orang yang meninggal (Pasal 321 ayat (1) KUHP).

Sejak tanggal 21 April 2008, Hate Speech yang dilakukan di media sosial telah diatur pada Pasal 45 ayat (2) jo.Pasal 28 ayat (2) UU No.11 Tahun 2008 tentang ITE. Namun Pasal  tersebut telah diubah menjadi Pasal 45A ayat (2) UU No.19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik yang berbunyi sebagai berikut:

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dipidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dana atau denda paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).”

Pemidanaan atas dugaan tindak pidana ujaran kebencian juga diatur pada Pasal 16 jo.Pasal 4 huruf b angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan diskriminasi Ras dan Etnis yang mengatur mengenai tindakan diskriminatif ras dan etnis berupa menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang karena perbedaan ras dan etnis yang berupa perbuatan membuat tulisan atau gambar untuk ditempatkan, ditempelkan atau disebarluaskan di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat dilihat atau dibaca oleh orang lain, dengan ancaman pidana penjara paling 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500 juta.

Ujaran kebencian yang dapat menerbitkan keonaran juga diatur dalam Pasal 14 jo.Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana yang berbunyi sebagai berikut:

Pasal 14, 

  1. “Barang siapa dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.”
  2. “Barang siapa menyiarkan suatu berita atau mengeluarkan pemberitahuan, yang dapat menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, sedangkan ia patut dapat menyangka bahwa berita atau pemberitahuan itu adalah bohong, dihukum dengan penjara setinggi-tingginya tiga tahun.”

Pasal 15, “Barang siapa menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang berkelebihan atau yang tidak lengkap, sedangkan ia mengerti setidak-tidaknya patut dapat menduga, bahwa kabar demikian akan atau mudah dapat menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya dua tahun.”

Surat Edaran (SE) Kepala Kepolisian Negara Nomor SE/6/X/2015 Tahun 2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian (Hate Speech) diterangkan bahwa “ujaran kebencian dapat berupa tindak pidana yang diatur dalam KUHP dan ketentuan pidana lainnya di luar KUHP yang berbentuk; Penghinaan, Pencemaran nama baik, Penistaan, Perbuataan tidak menyenangkan, Memprovokasi, Menghasut, atau Penyebaran berita bohong dan semua tindakan di atas memiliki tujuan atau bisa berdampak pada tindak diskriminasi, kekerasan, penghilangan nyawa dan atau konflik sosial.”

Oleh sebab itu, dalam ranah ini kita harus dapat mawas diri; bedakan mana kritik, mana fitnah dan mana ujaran kebencian.

Mengkritik lah kerena itu bukan suatu tindak pidana, namun kritik yang dilakukan dengan rasa benci, memfitnah, menghina, hoaks dan sebaginya dapat dipidana. Selain itu, atas pelaporan masalah tersebut tidak harus orang atau korban (yang dibenci/difitnah/dihina) melainkan siapapun Warga Indonesia dapat membuat laporan terjadinya tindak pidana ujaran kebencian, fitnah dan penghinaan tersebut kepada pihak yang berwajib.

Di hadapan Hukum, semua Warga Negara Indonesia (WNI) mempunyai Hak yang sama. Perjuangan menegakkan demokrasi merupakan upaya umat manusia dalam rangka menjamin dan melindungi hak asasinya, karena demokrasi merupakan salah satu yang memberi penghargaan atas Hak Dasar Manusia. Demokrasi bukanlah hanya sebatas Hak Sipil dan Politik saja, namun dalam demokrasi juga terkait erat dengan sejauh mana terjaminnya Hak-Hak Pendidikan, Ekonomi, dan Sosial Budaya dari rakyatnya.

Pendemokrasian dan Hak Asasi Manusia (HAM) akan terwujud dan di jamin oleh negara yang demokratis dan demikian sebaliknya, demokrasi akan terwujud apabila negara mampu menjamin Tegaknya Hukum dalam Kebenaran, dan HAM Rakyatnya. Terwujudnya semua ini tergantung sinergisitas ‘NIAT’ bersungguh-sungguh yang menjadi Pemimpin di Negara dengan Integritasnya. Jika tidak ada ini, semua hanya kamuflase belaka dari maksud Otoriternya yang diperuntukan kepentingan Pribadi, Saudara, Kolega, Kelompok, dan sebagainya.


Penulis : Ogi. ST (Ogi “Jhenggot”)

 

Pengalaman keorganisasian:

  • Aktifis ’98,
  • Forkot, Simpul UNSADA
  • Dll.

Pengalaman Pekerjaan:

  • Sebagai Project Manager di PT.Synco Sinergy, Proyek ‘Wellhead Platform Jacket (WHP) dan Process Quarters Platform (PQP) – RUBY FIELD DEVELOPMENT PROJECT, PEARL ENERGY PEARLOIL (SEBUKU).
  • Sebagai Owner Rep. di NorCE Offshore Constructiin and Engineering Ltd.
  • Dll.

Redaksi

www.intinews.co.id adalah berita siber legal di Indonesia, menyuguhkan berita dengan profesionalitas, aktual dan anti hoaks. (www.intinews.co.id is legal news in Indonesia that presents news with professionality, actual and no hoaxes) With Motto: "The Struggle Continuously, oppressive opponents with fact data !".

Related Posts

Terima kasih atas perhatiannya. Hormat kami, Pimred www.intinews.co.id

%d blogger menyukai ini: