Bullying atau Perundungan Dilakukan Oknum Pengajar, Orangtua Wajib Lapor (Bagian I)

Ilustrasi foto, salah satu Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) di Kota Tanjungpinang, Atmadinata. foto, dokumentasi INTINEWS.co.id

INTINEWS.CO.ID, PENDIDIKAN& IPTEKTut Wuri Handayani merupakan satu dari tiga semboyan yang diterapkan Ki Hajar Dewantara (Ki Hajar Dewantoro).

Tiga semboyan itu adalah;

  1. Ing Ngarsa Sung Tulada,
  2. Ing Madya Mangun Karsa, dan
  3. Tut Wuri Handayani.

Arti dari semboyan ini adalah:

  1. Tut Wuri Handayani, dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan),
  2. Ing Madya Mangun Karsa, di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide,
  3. Ing Ngarsa Sung Tulada, di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik.

Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak untuk di didik,  belajar, berkembang, dan membangun rasa kasih persaudaraan. Sayangnya, terkadang lingkungan sekolah justru menjadi sebuah tempat yang sangat menakutkan bagi murid yang menjadi korban penindasan.

Penindasan atau Perundungan disebut bullying adalah salah satu masalah yang hingga saat ini belum bisa diberantas secara menyeluruh dalam lingkungan sekolah (berbagai macam perbuatan Perundungan yang sudah banyak viral)

Perundungan, bullying bisa di lakukan tidak hanya antara murid dengan murid saja, tapi perlakuan yang dilakukan oleh oknum Guru/Pengajar kepada murid pun sering terjadi.

Terjadinya perbuatan Perundungan yang dilakukan oknum tenaga pendidik kerap kali seakan-seakan tidak diketahui oleh Kepala sekolah atau pihak yang bertanggung jawab di lingkungan sekolah tersebut, dan korban bullying tidak berani memberi tahu siapa pun tentang kondisi yang dialaminya karena diancam oleh si penindas atau bully. Akibatnya, pihak sekolah pun kesulitan untuk melacak tindakan tersebut.

Apabila pihak yang bertanggung jawab di sekolah (kepala sekolah) juga tidak bisa mengabaikan perbuatan oknum guru atau tidak mengambil tindakan terhadap kasus bullying, sudah tugas orangtua untuk menindak lanjutkan kasus tersebut ke pihak berwajib.

Ada 3 jenis bullying yang kerap terjadi di lingkungan sekolah, yaitu;
1. Penindasan fisik
2. Penindasan verbal
3. Tindakan pengucilan

Kadang, seorang anak bisa menjadi korban beberapa jenis penindasan sekaligus, dan ciri-ciri (dampak) pada anak berbeda-beda.

1. Penindasan fisik

Perundungan ‘penindasan fisik’ biasanya adalah salah satu jenis bullying yang paling mudah dikenali. Siswa/i yang menjadi korban akan menerima berbagai perlakuan semena-mena kekerasan fisik yang kasar dari si oknum guru sperri mulai dari penamparan, tendangan, bahkan kepala sampai di injak-injak.

Biasanya murid yang menjadi korban tidak mau mengakui bahwa dirinya ditindas secara fisik karena takut dianggap tukang mengadu atau karena diancam oleh si okunum guru penindasnya. Tapi ada juga beberapa siswa/i yang berani melaporkan perbuatan si oknum guru tersebut.

Perbuatan oknum guru tersebut segera laporkan ke pihak berwajib karena jika perbuatan Penamparan dilakukan di kelas sudah pasti semua murid yang di kelas disitu melihat perbuatan tersebut. Si oknum guru sudah pasti nantinya berusaha berbuat bagimana murid-murid yang melihat perbuatannya tidak mengakui si oknum guru tidak melakukan Perbuatan itu, tapi serahkan kepada pihak berwajib karena bagi pihak berwajib mengungkap kebenaran sudah tugas sehari-harinya.

2. Penindasan verbal

Jenis bullying ini tidak lebih baik dari penindasan fisik. Penindasan verbal dilakukan dengan kata-kata, pernyataan, julukan, dan tekanan psikologis yang menyakitkan atau merendahkan.

Dampak perbutan ini tidak terlihat secara langsung, si oknum guru yang melakukan perbuatan penindasan cara begini tak akan ragu untuk melontarkan ucapan-ucapan yang tidak pantas yang bertujuan merusak psikis siswa/i yang di bully sehingga siswa/i tersebut malu, dan sebagainya. Perbutan perundungan seperti ini, misalnya si oknum guru yang mengucapkan secara terbuka pada saat upacara hari Senin di sekolah, si oknum guru di kelas bukan menerangkan pelajaran malah berulang-ulang kali ucapkan yang tidak pantas.

Ciri-ciri korban penindasan verbal yang bisa diamati adalah perubahan sikap seperti jadi tidak minat makan, pendiam, tidak percaya diri, dan mudah tersinggung, tidak mau ke sekolah, dan sebagainya.

Jangan menasihati anak untuk mengabaikan pelaku penindasan verbal. Sebagai orang tua bentuklah rasa percaya diri anak dan mengajari bahwa tak seorang pun layak diperlakukan dengan semena-mena. Dan orang tua laporkan siapa saja oknum guru yang melakukan perbutan penindasan verbal ini kepada pihak berwajib, karena perbutan perundang ini adalah melanggar hukum yang berlaku.

3. Tindakan pengucilan

Korban pengucilan mungkin tidak disakiti secara fisik maupun verbal, tetapi justru dimusuhi dan diabaikan oleh lingkungan pergaulannya. Anak pun jadi terisolasi dan terpaksa menyendiri.

Perbuatan Tindakan Pengucilan ini, bisa terjadi pada anak-anak. Cara-cara perbuatan ini jika di lakukan oleh oknum guru yang telah melakukan perbuatan penindasan fisik, si oknum guru ini membujuk ‘meminta’ murid yang lebih senior mengucilkan si korban.

Redaksi

www.intinews.co.id adalah berita siber legal di Indonesia, menyuguhkan berita dengan profesionalitas, aktual dan anti hoaks. (www.intinews.co.id is legal news in Indonesia that presents news with professionality, actual and no hoaxes) With Motto: "The Struggle Continuously, oppressive opponents with fact data !".

Related Posts

Terima kasih atas perhatiannya. Hormat kami, Pimred www.intinews.co.id

%d blogger menyukai ini: